1.
Respirasi
pada Ikan (Pisces)
Hewan
yang menyesuaikan diri dengan lingkungan air umumnya bemapas dengan insang. Ada
yang insangnya dilengkapi tutup insang (operkulum), misalnya ikan
bertulang sejati (Osteichthyes), dan ada pula yang insangnya tidak
bertutup insang, misalnya pada ikan bertulang rawan (Chondrichthyes). Di
samping itu, ada pula kelompok ikan paru-paru, yang bernapas dengan pulmosis.
Insang
ikan terdiri atas bagian lengkung insang, rigi-rigi dan lembar insang. Lengkung
insang tersusun atas tulang rawan berwarna putih. Pada lengkung insang ini
tumbuh pasangan rigi-rigi yang berguna untuk menyaring air pernafasan yang
melalui insang.
Lembaran
insang tersusun atas jaringan lunak, berbentuk sisir dan berwarna merah, karena
mempunyai banyak pembuluh kapler darah yang merupakan cabang dari arteri insang. Pada lembaran yang kaya
kapiler darah inilah pertukaran CO2 dan oksigen berlangsung.
Insang
ikan tersimpan di dalam rongga insang dan terlindung oleh tutup insang.
Mekanisme pemapasan ikan bertulang sejati meliputi dua tahap, yakni fase
inspirasi dan ekspirasi.
·
Fase
inspirasi : Fase
inspirasi merupakan fase pengambilan air ke dalam insang. Mekanisme inspirasi
adalah sebagai berikut: tutup insang menutup, mulut terbuka, akibatnya tekanan
dalam mulut rendah dan air dari luar masuk ke dalam rongga mulut.
·
Fase ekspirasi : Fase ekspirasi adalah fase
pengeluaran air. Setelah air masuk ke dalam rongga mulut, celah mulut menutup,
tutup insang membuka, tekanan yang lebih besar di dalam rongga mulut
menyebabkan air ke luar melewati celah tutup insang tersebut. Pada saat air ke
luar melalui lembaran insang, oksigen berdifusi ke dalam kapiler darah,
sedangkan CO2 berdifusi dari darah ke dalam air. Jadi pertukaran
02 dan CO2 pada ikan terjadi pada fase ekspirasi.
Pada
ikan paru-paru (Dipnoi) mempunyai cara pernafasan yang menyerupai amfibi. Di
samping insang, ikan paru-paru mempunyai satu atau sepasang gelembung udara
seperti paru-paru, yang dapat digunakan untuk membantu pernapasan, disebut pulmosis.
Gelembung ini dikelilingi banyak pembuluh darah. Pulmosis dihubungkan dengan
kerongkongan oleh duktus pneumatikus. Saluran ini merupakan jalan masuk
dan keluarnya udara dari mulut ke gelembung dan sebaliknya, sekaligus
memungkinkan terjadinya difusi udara ke kapiler darah.
Ikan
paru-paru hidup di rawa-rawa dan di sungai. Bila airnya kering dan insangnya
tidak berfungsi, dia masih mampu bertahan hidup karena bernapas menggunakan
gelembung udaranya. Berdasarkan kenyataan ini, maka dapat disimpulkan bahwa
ikan paru-paru merupakan makhluk peralihan dari ikan ke amfibia.
2.
Respirasi
pada Katak (Amphibi)
Katak
merupakan vertebrata yang dalam perkembangan hidupnya mengalami metamorfosis.
Saat baru menetas dari telur hingga usia tertentu katak masih berupa berudu,
hidup di air seperti ikan. Pada saat itu berudu bernapas dengan insang.
Mula-mula berupa insang luar, dan setelah berumur lebih kurang 12 hari, insang
luar diganti insang dalam. Selanjutnya insang dalam ini akan berkembang menjadi
paru-paru, sedangkan insang luarnya berkembang menjadi bagian dari kulit. Setelah mengalami metamorfosis dan menjadi katak, alat
pernapasannya berubah menjadi kulit dan paru-paru. Pemapasan dengan kulit
berlangsung efektif secara difusi baik di darat maupun di air sedangkan
pernafasan paru-paru hanya dilakukan saat berada di darat.
Mekanisme
pernapasan pada katak juga meliputi inspirasi dan ekspirasi. Mekanisme
pernapasan pada katak selengkapnya sebagai berikut.
·
Fase
Inspirasi : Udara
bebas masuk melalui celah hidung (koane) ke rongga mulut terus ke
paru-paru. Bila otot bawah rahang bawah (sub mandibularis) mengendor maka
volume rongga mulut membesar. Selanjutnya udara dari luar akan masuk ke rongga
mulut melalui koane. Kemudian koane tertutup, dilanjutkan otot bawah rahang
bawah berkontraksi. Akibatnya rongga mulut mengecil, tekanan udara rongga mulut
meningkat, sehingga udara dari rongga mulut masuk ke paru-paru. Di dalam
paru-paru oksigen berdifusi ke darah kapiler, sedangkan darah kapiler alveolus
berdifusi ke luar.
·
Fase
Ekspirasi : Setelah
terjadi terjadi pertukaran gas di dalam paru-paru, otot bawah rahang bawah
berelaksasi dan otot perut berkontraksi, sehingga rongga mulut membesar,
sementara isi perut menekan paru-paru, sehingga udara dari dalam paru-paru
masuk ke rongga mulut. Selanjutnya otot bawah rahang bawah berkontraksi, rongga
mulut mengecil, sedangkan tekanannya meningkat sehingga udara akan keluar
melalui koane.
3.
Respirasi pada Burung (Aves)
·
lubang
hidung
·
celah
tekak atau faring yang menghubungkan rongga mulut dengan trakea
·
trakea
atau batang tenggorok – di dalam percabangan batang tenggorok terdapat pita
suara yang disebut syrink
·
sepasang
paru-paru
Paru-paru yang ukurannya relatif
kecil ini dihubungkan dengan kantong-kantong hawa atau pundi-pundi hawa (sakus
pneumatikus). Kantong hawa berfungsi untuk:
·
membantu
pemapasan, terutama pada waktu terbang
·
membantu
memperbesar ruang siring, sehingga memperkeras suara
·
mencegah
hilangnya panas badan secara berlebihan
·
mengatur
berat jenis tubuh pada saat burung terbang
Mekanisme pernafasan burung adalah
sebagai berikut:
Pernapasan pada burung saat tidak
terbang
·
Fase
Inspirasi : tulang
rusuk bergerak ke depan – volume rongga dada membesar – tekanan mengecil –
udara akan masuk melalui saluran pernapasan. Saat inilah sebagian oksigen
masuk ke paru-paru dan O2 berdifusi ke dalam darah kapiler, dan sebagian
udara dilanjutkan masuk ke dalam katong-kantong udara.
·
Fase
Ekspirasi : tulang
rusuk kembali ke posisi semula – rongga dada mengecil – tekanan membesar. Pada
saat ini udara dalam alveolus dan udara dalam kantong-kantong hawa bersama-sama
keluar melalui paru-paru. Pada saat melewati alveolus, O2 diikat
oleh darah kapiler alveolus, dan darah melepas CO2. Dengan demikian,
pertukaran gas CO2 dan O2 dapat berlangsung saat
inspirasi dan ekspirasi.
Pernapasan pada burung saat terbang
Pada
saat terbang, burung tidak dapat menggerakkan tulang rusuknya. Oleh sebab itu,
pada saat burung terbang yang berperan penting dalam pernapasan adalah kantong
hawa. Inspirasi dan ekspirasinya dilakukan secara bergantian oleh pundi-pundi
hawa antar tulang korakoid (bahu) dan pundi hawa bawah ketiak.
·
Fase
Inspirasi : Pada
saat sayap diangkat, pundi hawa antar tulang korakoid terjepit, sedangkan pundi
hawa ketiak mengembang, akibatnya udara masuk ke pundi hawa ketiak melewati
paru-paru, terjadilah inspirasi. Saat melewati paru-paru akan
terjadi pertukaran gas O2 dan CO2.
·
Fase
Ekspirasi :
Sebaliknya pada saat sayap diturunkan, pundi hawa ketiak terjepit, sedangkan
pundi hawa antar tulang korakoid mengembang, sehingga udara mengalir keluar
dari kantong hawa melewati paru-paru sehingga terjadilah ekspirasi.
Saat melewati paru-paru akan terjadi pertukaran gas O2 dan CO2.
Dengan cara inilah inspirasi dan ekspirasi udara dalam paru-paru burung saat
terbang. Jadi pertukaran gas pada burung saat terbang juga berlangsung saat
inspirasi dan ekspirasi.
4.
Respirasi pada Kadal (Reptil)
Berbeda
dengan organ pernapasan serangga, organ yang digunakan pada pernapasan
reptilian adalah paru-paru. Sebab, sebagian besar reptilian hidup di daratan
atau habitat yang kering. Untuk mengimbanginya, kulit reptilian bersisik dan
kering, supaya cairan dalam tubuhnya tidak mudah hilang. Kulit bersisik pada
reptilian merupakan suatu adaptasi hidup dalam udara kering, dan bukan sebagai
alat pertukaran gas. Walau begitu, ada pula mekanisme pernapasan reptilian yang
dibantu oleh permukaan epitelium lembab di sekitar kloaka. Reptilian demikian
misalnya kura-kura dan penyu. Hal ini dilakukan karena tubuh kura-kura dan
penyu terdapat tempurung yang kaku. Tempurung ini menyebabkan gerak pernaasan
kedua hewan tersebut terbatas. Mekanisme pernapasan reptilian terjadi dalam dua
fase, yaitu fase inspirasi dan fase ekspirasi. Saat tulang rusuk
mengembang, volume rongga dada akan meningkat. Selanjutnya udara (oksigen) akan
masuk ke dalam paru-paru, sehingga terjadi fase inspirasi. Sedangkan, fase ekspirasi
akan terjadi, jika tulang rusuk merapat, sehingga CO2
(karbondioksida) dan uap air keluar dari paru-paru.
5.
Respirasi pada Manusia (Mamalia)
Pernapasan eksternal pada
manusia dapat dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu fase inspirasi dan ekspirasi,
serta fase pertukaran udara di jaringan tubuh dan paru-paru (pernapasan
internal).
Agar proses pernapasan dapat
berlangsung, diperlukan alat-alat pernapasan. Alat-alat ini secara berurutan
dimulai dari hidung, faring, laring, trakea, dan paru-paru.
a.
Hidung
Perjalanan udara memasuki
paru-paru dimulai ketika udara melewati lubang hidung. Di lubang hidung, udara
disaring oleh rambut-rambut di lubang hidung. Udara juga menjadi lebih hangat
ketika melewati rongga hidung bagian dalam. Di rongga hidung bagian dalam,
terdapat juga ujung-ujung saraf yang dapat menangkap zat-zat kimia yang
terkandung dalam udara sehingga kita mengenal berbagai macam bau. Ujung-ujung
saraf penciuman tersebut kemudian akan mengirimkan impuls ke otak.
b.
Faring
Setelah melalui rongga hidung,
udara akan melewati faring. Faring adalah percabangan antara saluran pencernaan
(esofagus) dan saluran pernapasan (laring dan trakea). Pada percabangan ini,
terdapat klep epiglottis yang mencegah makanan memasuki trakea.
c.
Trakea
Dari faring, udara melewati
laring, tempat pita suara berada. Dari laring, udara memasuki trakea. Trakea
terdiri atas susunan cincin-cincin tulang rawan. Cincin-cincin ini memungkinkan
trakea tetap mempertahankan bentuknya. Dinding trakea dilapisi oleh epitel
berlapis banyak palsu bersilia. Epitel ini menyekresikan lendir di dinding
trakea. Lendir ini berfungsi menahan benda asing yang masuk,
sebelum akhirnya dikeluarkan dengan gerakan silia yang terdapat pada membran
sel epitel.
d.
Bronkus dan Bronkiolus
Setelah melalui trakea, saluran bercabang
dua. Kedua cabang tersebut dinamakan bronkus. Setiap bronkus terhubung
dengan paru-paru sebelah kanan dan kiri. Bronkus bercabang-cabang lagi, cabang
yang lebih kecil disebut bronkiolus. Dinding bronkus juga dilapisi
lapisan sel epitel selapis silindris bersilia.
e.
Alveolus
Bronkiolus bermuara pada alveoli (tunggal:
alveolus), struktur berbentuk bola-bola mungil yang diliputi oleh
pembuluh-pembuluh darah. Epitel pipih yang melapisi alveoli memudahkan darah di
dalam kapiler-kapiler darah mengikat oksigen dari udara dalam rongga alveolus.
Fase
Inspirasi dan Ekspirasi
Inspirasi merupakan
proses ketika udara masuk ke dalam saluran pernapasan,
sedangkan ekspirasi merupakan proses ketika udara keluar dari saluran pernapasan. Inspirasi terjadi ketika kita menghirup
napas dan ekspirasi terjadi ketika kita
mengembuskan napas atau mengeluarkan udara dari
paru-paru kita. Terdapat dua macam pernapasan, yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut. Apakah perbedaannya?
Inspirasi terjadi ketika otot antartulang rusuk
berkontraksi. Tulang rusuk akan terangkat
dan rongga dada membesar. Tekanan udara di dalam rongga dada menurun sehingga terjadi aliran udara dari lingkungan
ke dalam saluran pernapasan. Ekspirasi terjadi
ketika otot antartulang rusuk mengendur (relaksasi)
yang menyebabkan mengecilnya rongga dada. Pernapasan
seperti ini disebut pernapasan dada. Pada
pernapasan perut, selama inspirasi otot diafragma berkontraksi sehingga posisi permukaan diafragma menjadi mendatar.
Akibatnya, volume rongga dada dan paru-paru
membesar. Membesarnya volume paru-paru menyebabkan
tekanan udara di dalamnya menjadi lebih rendah daripada tekanan udara di luar paru-paru sehingga udara masuk ke
paru-paru. Sebaliknya, selama ekspirasi, otot
diafragma mengalami relaksasi sehingga menyebabkan
posisi permukaan diafragma menjadi melengkung ke
atas. Akibatnya, volume rongga dada dan rongga paru-paru menjadi mengecil
sehingga tekanan udara di dalam paru-paru lebih tinggi daripada tekanan udara
di luar paru-paru. Perbedaan tekanan udara ini menyebabkan keluarnya udara dari
dalam paru-paru.
MEKANISME PROSES PENCERNAAN PADA
VERTEBRATA
Sistem Digestion atau
sistem pencernaan adalah rangkaian organ visceral dari kelenjar-kelenjar
yang menghasilkan secret yang berfungsi untuk pencernaan, absorbsi dan
metabolisme makanan. Sistem pencernaan ini meliputi beberapa tahapan, yaitu
tahapan yang pertama pengolahan makanan dan tahapan kedua adalah proses
perombakan makanan meenjadi molekul-molekul yang cukup kecil sehingga dapat
diserap oleh tubuh.
1.
Sistem Pencernaan Amfibi
Sistem pencernaan
makanan pada amfibi hampir sama dengan ikan, diawali oleh cavum oris. Pada
beberapa bagian dari tractus digestoria mempunyai struktur dan ukran yang
berbeda. Mangsa yang berupa hewan kecil yang ditangkap untuk dimakan akan
dibasahi dengan air liur.
Sistem pencernaan amfibi meliputi saluran pencernaan dan
kelenjar pencernaan. Salah satu binatang amphibi adalah katak. Makanan
katak berupa hewan-hewan kecil (serangga). Secara berturut-turut saluran
pencernaan pada katak meliputi:
a.
Rongga mulut. Gigi tumbuh pada rahang atas dan langit-langit. Gigi yang
tumbuh di langit-langit disebut gigi vomer. Setiap kali tanggal, akan tumbuh
gigi baru sebagai ganti. Lidah pada katak bercabang dua dan berfungsi sebagai
alat penangkap mangsa. Jika ada serangga, katak menjulurkan lidahnya dan
serangga itu akan melekat pada lidah yang berlendir. Katak tidak begitu banyak
mempunyai kelenjar ludah dari cavum oris, makanan akan melalui pharinx.
b.
Esophagus. Berupa saluran pendek (kerongkongan). Esophagus yang
menghasilkan sekresi alkalin (basis) dan mendorong makanan masuk ke dalam
ventriculus yang berfungsi sebagai gudang pencernaan.
c.
Ventrikulus (lambung). Berbentuk kantung yang bila terisi makanan
menjadi lebar. Bagian muka ventriculus yang besar di sebut cardiac, sedang
bagian posterior mengecil dan berakhir dengan pyloris. Kontraksi dinding otot
ventrikulus meremas makanan menjadi hancur dan dicampur dengan sekresi
ventriculus yang mengandung enzim atau fermen, yang merupakan katalisator.
Iap-tiap enzim merubah sekelompok zat makanan menjadi ikatan-ikatan yang lebih
sederhana. Enzim yang dihasilkan oleh ventriculus dan intestinum terdiri atas :
pepsin, tripsin, eripsin dan protein. Disamping itu ventriculus menghasilkan
asam klorida untuk mengasamkan makanan. Gerakan yang menyebabkan makanan
berjalan dalam saluran disebut gerak peristaliis. Lambung katak
dapat dibedakan menjadi 2, yaitu tempat masuknya esofagus dan lubang keluar menuju
usus. Di dalam lambung makanan dicerna kemudian masuk ke usus halus.
d.
Intestinum (usus). Dinding usus mengandung kapiler darah dan di
sisi sari-sari makanan diserap. Dapat dibedakan atas usus
halus dan usus tebal (besar). Usus halus
meliputi: duodenum, jejenum, dan ileum, tetapi belum jelas batas-batasnya.
Dinding usus halus mengandung kapiler darah yang berfungsi untuk menyerap
sari-sari makanan. Beberapa penyerapan zat makanan terjadi di
ventriculus tapi terutama terjadi di intestinum. Makanan masuk ke dalam instestinum
dari ventriculus melalui klep pyloris.
e.
Usus tebal (besar). Berakhir pada rektum dan menuju kloaka, dan
f.
Kloaka. Merupakan muara bersama antara saluran pencernaan makanan,
saluran reproduksi, dan urine.
Kelenjar pencernaan pada amfibi terdiri atas kelenjar ludah hati
dan pancreas yang memberikan sekresinya pada intestinum, kecuali intestinum
menghasilkan sekresi sendiri. Hati berwarna merah kecoklatan, terdiri atas
lobus kanan yang terbagi lagi menjadi dua lobulus. Hati berfungsi mengeluarkan
empedu yang disimpan dalam kantung empedu yang berwarna kehijauan. Hepar/ hati
yang besar terdiri atas beberapa lobus dan bilus (zat empedu) yang dihasilkan
akan ditampung sementara dalam vesica felea, yang kemudian akan dituangkan
dalam intestinum melalui ductus cystecus dahulu kemudian melalui ductus
cholydocus yang merupakan saluran gabungan dengan saluran pancreas. Fungsi
bilus untuk menghasilkan zat lemak. Pankreas berwarna kekuningan, melekat
diantara lambung dan usus dua belas jari (duodenum). Pankreas berfungsi
menghasilkan enzim dan hormon yang bermuara pada duodenum
2.
Sistem Pencernaan Reptil
Sistem pencernaan pada reptile terdiri atas saluran pencernaan
dan kelenjar pencernaan. Reptile pada umumnya terdiri atas saluran
pencernaan dan kelnejar pencernaan. Pada umumnya reptile adalah
karnivora (pemakan daging). Saluran pencernaannya terdiri dari mulut,
kerongkongan, lambung, usus dan kloaka. Dan kelenjar pencernaannya terdiri atas
kelenjar ludah, pancreas dan hati.
a.
Rongga Mulut. Mulut yang dapat
terbuka lebar memiliki dentes (gigi-gigi) yang berfungsi untuk keperluan
ofensif dan mempertahankan serta mengunyah mangsanya. Barisan gigi itu dapat
dibedakan atas dua deretan .deretan gigi yang conisch (bentuk kerucut) menempel
pada rahang, dan gigi pleurodont, bengkok kea rah cavum oris. Pada palatum
(langit-langit) terdapat deretan gigi halus yang disebut dentes
palatine. Rongga mulut Disokong oleh rahang atas dan rahang
bawah. Dan khusus pada ular berbisaakan
tumbuh gigi yang dapat menghasilkan racun yang terdapat pada ronggamulut. Pada buaya giginya bisa mnegalami 50 kali
pergantian. Pada umumnya reptil tidak mengunyah makanannya jadi
giginya berfungsi sebagai penangkap mangsa. Pada rongga mulut terdapat lidah
yang pipih dan melekat pada tulang lidah dengan ujung bercabang dua atau
bersifat bipida yang terletak di dasar cavum oris. Pada reptile yang masih
hidup di air misalnya buaya bagian belakang dari lingua terdapat satu
lipatan transversal. Bagian ini bila ditekan akan menutup sehingga cavum oris
terpisah dengan pharynx, oleh karena itu walaupun hewan itu membuka mulut pada
waktu berada di air, paru-parunya tidak akan dimasuki air. Pada reptilian
pemakan insekta memiliki lidah yang dapatdijulurkan, sedangkan pada buaya dan
kura-kura lidahnya relative kecil dan tidak dapat dijulurkan. Lidah ular
berbentuk pembuluh yang terbungkus oleh selaputdan terletak di bagian rahang
bawah. Memiliki kelenjar mukoid yang sekretnya berfungsi agar rongga mulut
tetap basah dan dapat dengan mudah menelanmangsanya.Pada ular Kelenjar labia
bermodifikasi menjadi kelenjar poison yang bermuara di kantung yang
terletak di daerah gigi taring dan dikeluarkan melalui gigi tersebut.
b.
Kerongkongan
(esophagus) merupakan saluran di belakang rongga
mulut yang menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung. Di dalam
esophagus tidak terjadi proses pencernaan.
c.
Lambung (ventrikulus) yang terdiri aas
bagian yang agak bulat yaitu fundus dan agak kecil yatu piloris. Lambung
merupakan tempat penampungan makanan dan pencernaan
makanan berupa saluran pencernaan yang membesar dibelakang esophagus.
Disini makanan baru mengalami proses pencernaan. Pada bagian fundus pylorus
makanan dicerna secara mekanik dan kimia.
d.
Intestinum terdiri dari usus
halus dan usus tebal yang bermuara pada anus. Dalam usus halus terjadi proses penyerapan dan sisanya
menuju ke rectum, kemudian diteruskan ke kloaka untuk
dibuang. Ukuran usus disesuaikan dengan bentuk tubuhnya. Kloaka merupakan saluran umum untuk pencernaan,
ekskresi dan reproduksi.
Kelenjar pencernaan, terdiri atas hati dan pancreas. Empedu yang
dihasilkan oleh hati ditampung di
dalam kantong yang disebut vesica fellea. Hati tediri dari dualobus
yaitu sinister dan dexter yang berwarna coklat kemerahan. Kantong empedu
terletak pada tepi sebelah kanan hati. Pancreas pada reptile terletak
diantaralambung dan duodenum. Pancreas berbentuk pipih dan berwarna
kekuning-kuningan.
3.
Sistem Pencernaan Aves
Sistematis pencernaan
makanan pada burung :
Mulut / paruh →
Kerongkongan → Tembolok → Lambung kelenjar →
Lambung pengunyah → Hati → Pankreas → Usus halus → Usus besar →
Usus buntu → Poros usus (rectum) → Kloaka
Lambung pengunyah → Hati → Pankreas → Usus halus → Usus besar →
Usus buntu → Poros usus (rectum) → Kloaka
Fungsi Organ
Pencernaan Pada Aves:
·
Paruh : Mengambil makanan
·
Kerongkongan : Saluran makanan menuju tembolok
·
Tembolok : Menyimpan makanan sementara.
·
Lambung kelenjar : Mencerna makanan secara kimiawi.
·
Lambung pengunyah : Menghancurkan makanan.
·
Hati : Membantu mancerna makanan secara mekanis.
·
Pankreas : Menghasilkan enzim.
·
Usus halus : Tempat pencernaan sari makanan yang diserap oleh
kapiler darah pada dinding usus halus
·
Usus besar : Saluran sisa makan ke rectum.
·
Usus buntu : Memperluas daerah penyerapan sari makanan.
·
Poros usus : Tempat penyimpan sisa makanan sementara.
·
Kloaka : Muara 3 (tiga) saluran,yaitu :
- Pencernaan usus.
- Saluran uretra dari
ginjal
- Saluran kelamin
Pada mulut terdapat paruh yang sangat kuat dan berfungsi untuk
mengambil makanan. Makanan yang diambil oleh paruh kemudian masuk kedalam
rongga mulut lalu menuju kerongkongan. Bagian bawah kerongkongan membesar
berupa kantong yang disebut tembolok.Kemudian masuk ke lambung kelenjar.
Disebut lambung kelenjar karena dindingnya mengandung kelenjar yang
menghasilkan getah lambung yang berfungsi untuk mencerna makan secara kimiawi.
Kemudian makan masuk menuju lambung pengunyah. Disebut lambung pengunyah karena
dindingnya mengandung otot-otot kuat yang berguna untuk menghancurkan makanan.
Didalam hati,empedal sering terdapat batu kecil atau pasir untuk membantu
mencerna makanan secara mekanis.
Kemudian, makanan masuk menuju usus halus.Enzim yang dihasilkan
oleh
pankreas dan empedu dialirkan kedalam usus halus.Hasil pencernaan berupa sari-
sari makanan diserap oleh kapiler darah pada dinding usus halus.Burung mem-
punyai dua usus buntu yang terletak antara lambung dan usus.Usus buntu berguna
untuk memperluas daerah penyerapan sari makanan. Sisa makanan didorong ke usus besar kemudian kedalam poros usus (rektum) dan akhirnya dikeluarkan melalui kloaka.
pankreas dan empedu dialirkan kedalam usus halus.Hasil pencernaan berupa sari-
sari makanan diserap oleh kapiler darah pada dinding usus halus.Burung mem-
punyai dua usus buntu yang terletak antara lambung dan usus.Usus buntu berguna
untuk memperluas daerah penyerapan sari makanan. Sisa makanan didorong ke usus besar kemudian kedalam poros usus (rektum) dan akhirnya dikeluarkan melalui kloaka.
4.
Sistem Pencernaan Pisces
a.
Mulut.
Bagian terdepan dari mulut adalah bibir, pada ikan-ikan
tertentu bibir tidak berkembng dan malahan hilang secara total karena
digantikan oleh paruh atau rahang (ikan famili scaridae, diodotidae,
tetraodontidae). Pada ikan belanak atau tambakan, bibir berkembang dengan baik
dan menebal, bahkan mulutnya dapat disembulkan. Keberadaan bibir berkaitan erat
dengan cara mendapatkan makanan. Di sekitar bibir pada ikan tertentu terdapat
sungut, yang berperan sebagai alat peraba. Mulut terletak di ujung hidung dan
juga terletak di atas hidung.
b.
Rongga
mulut. Di bagian belakang mulut terdapat ruang
yang disebut rongga mulut. Rongga mulut ini berhubungan langsung dengan segmen
faring. Secara anatomis organ yang terdapata pada rongga mulut adalah gigi,
lidah dan organ palatin. Permukaan rongga mulut diselaputi oleh lapisan sel
permukaan (epitelium) yang berlapis. Pada lapisan permukaan terdapat sel-sel
penghasil lendir (mukosit) untuk mempermudah masuknya makanan. Disamping
mukosit, di bagian mulut juga terdapat organ pengecap (organ penerima rasa)
yang berfungsi menyeleksi makanan.
c.
Faring.
Lapisan permukaan faring hampir sama dengan rongga mlut, masih ditemukan organ
pengecap, Sebagai tempat proses penyaringan makanan.
d.
Esofagus.
Permulaan dari saluran pencernaan yang berbentuk seperti
pipa, mengandung lendir untuk membantu penelanan makanan. Pada ikan laut,
esofagus berperan dalam penyerapan garam melalui difusi pasif menyebabkan
konsentrasi garam air laut yang diminum akan menurun ketika berada di lambung
dan usus sehingga memudahkan penyerapan air oleh usus belakang dan rectum
(proses osmoregulasi)
e.
Lambung.
Lambung merupakan segmen pencernaan yang diameternya
relatif lebih besar bila dibandingkan dengan organ pencernaan yang lain.
Besarnya ukuran lambung berkaitan dengan fungsinya sebagai penampung makanan.
Seluruh permukaan lambung ditutupi oleh sel mukus yang mengandung
mukopolisakarida yang agak asam berfungsi sebagai pelindung dinding lambung
dari kerja asam klorida. Sebagai penampung makanan dan mencerna makanan secara
kimiawi. Pada ikan-ikan herbivora terdapat gizard (lambung khusus) berfungsi
untuk menggerus makanan (pencernaan secara fisik). Pilorus merupakan
segmen yang terletak antara lambung dan usus depan. Segmen ini sangat mencolok
karena ukurannya yang mengecil/menyempit.
f. Usus (intestinum). Merupakan
segmen yang terpanjang dari saluran pencernaan. Intestinum berakhir dan
bermuara keluar sebagai anus. Merupakan tempat terjadinya proses penyerapan zat
makanan.
g. Rektum.
Rektum merupakan segmen saluran pencernaan yang terujung. Secara anatomis sulit
dibedakan batas antara usus dengan rektum. Namun secara histologis batas antara
kedua segmen tersebut dapat dibedakan dengan adanya katup rektum.
h. Kloaka.
Kloaka adalah ruang tempat bermuaranya saluran pencernaan dan saluran
urogenital. Ikan bertulang sejati tidak memiliki kolaka, sedangkan ikan
bertulang rawan memiliki organ tersebut.
i.
Anus. Anus
merupakan ujung dari saluran pencernaan. Pada ikan bertulang sejati anus
terletak di sebelah depan saluran genital. Pada ikan yang bentuk tubuhnya
memanjang, anus terletak jauh dibelakang kepala bedekatan dengan pangkal ekor.
Sedangkan ikan yang tubuhnya membundar, posisi anus terletak jauh di depan
pangkal ekor mendekati sirip dada.
5.
Sistem Pencernaan Manusia (Mamalia)
Alat-alat
pencernaan manusia terdiri atas :
a.
Mulut
Mulut
merupakan alat pencernaan pertama yang dilalui makanan. Di dalam mulut, makanan
mengalami pencernaaan secara mekanik dan kimiawi. Secara mekanik, makanan
dihancurkan oleh gigi yang dibantu oleh lidah. Sedangkan, secara kimiawi,
makanan dicerna oleh enzim yang terkandung di dalam air ludah. Di dalam mulut
terdapat gigi, lidah, dan kelenjar ludah yang membantu pencernaan di dalam mulut.
1)
Gigi.
Gigi adalah alat bantu pencernaan yang berfungsi mengunyah makanan. Makanan ini
dipecah menjadi partikel yang lebih kecil sehingga dapat ditelan. Proses
pemecahan makanan di mulut oleh gigi disebut pencernaan mekanik yang pertama.
Gigi memiliki struktur tertentu.
Berdasarkan
fungsinya, gigi dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
a)
Gigi seri (insisivus), berfungsi untuk memotong makanan. Memiliki bentuk
seperti pahat.
b)
Gigi taring (kaninus), berfungsi untuk mengoyak makanan. Mempunyai bentuk agak
panjang.
c)
Gigi geraham (molar dan premolar), berfungsi untuk mengunyah, menggiling, dan
menghaluskan makanan. Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia, maka
susunan gigi pada manusia mengalami dua tahap, yaitu tahap pada masa bayi dan
masa dewasa.
Susunan
gigi masa bayi adalah gigi sulung (gigi susu). Gigi susu mulai tumbuh saat anak
berumur 6 - 8 bulan. Gigi anak tersebut akan lengkap menjadi 20 buah, saat
berumur 2,5 tahun. Susunan gigi susu adalah 8 gigi seri, 4 gigi taring dan 8
gigi geraham. Apabila gigi susu tanggal akan digantikan gigi permanen.
Susunan
gigi masa dewasa adalah gigi permanen (gigi tetap). Gigi permanen mulai tumbuh
pada umur 6 - 8 tahun. Jumlah gigi permanen yang lengkap adalah 32 buah. Susunannya
adalah 8 gigi seri, 4 gigi taring, 8 gigi premolar, dan 12 gigi molar. Apabila
gigi molar tanggal, maka tidak akan tumbuh gigi baru lagi.
2) Lidah. Lidah
tersusun atas otot lurik yang kasar dan dilapisi selaput mukosa. Lidah
berfungsi untuk membolak-balik dan mencampur makanan, serta membantu proses
penelanan makanan. Selain itu, lidah berperan untuk menentukan rasa makanan,
karena di permukaan lidah terdapat papila-papila pengecap. Bagian ujung lidah
dapat merasakan rasa manis, tepi depan rasa asin, tepi samping rasa asam, dan
pangkal lidah rasa pahit. Pada pangkal lidah bagian belakang terdapat epiglotis
yang mempunyai fungsi menutup jalan pernapasan saat menelan makanan. Sehingga,
makanan tidak akan masuk ke saluran pernapasan.
3) Kelenjar ludah.
Kelenjar ludah merupakan kelenjar yang ada di rongga mulut. Mempunyai fungsi
untuk memproduksi larutan mucus ke dalam mulut yang disebut ludah atau air liur
atau saliva. Secara normal air liur diproduksi sebanyak 1 - 1,5 liter setiap hari.
Air liur mempunyai komposisi air 97 - 98 %, glukoprotein, ptialin (amilase),
dan garam-garam alkali. Amilase atau ptyalin merupakan enzim yang berfungsi
mengubah amilum menjadi maltosa atau glukosa. Hal ini dapat dibuktikan apabila
kamu makan roti tawar, lama kelamaan akan terasa manis. Air liur memiliki dua
fungsi, yaitu secara mekanis dan secara kemis. Secara mekanis, air liur
berfungsi membasahi, melumasi makanan menjadi lunak dam berbentuk pasta sehingga
mudah di telan. Sedangkan, secara kemis, air liur berfungsi melarutkan makanan
yang kering sehingga bisa dirasakan, menjaga pH mulut, membunuh bakteri dan mencegah
agar mulut tidak kering.
Kelenjar
ludah di dalam mulut ada tiga, yaitu:
1)
Kelenjar submandibularis, terdapat di bawah rahang bagian tengah.
2)
Kelenjar sublingualis, terdapat di bawah dasar rongga mulut.
3)
Kelenjar parotis, terletak di bawah bagian depan telinga.
b. Kerongkongan
Kerongkongan
disebut juga esofagus merupakan saluran pencernaan setelah mulut, memiliki
panjang kurang lebih 25 cm. Posisi esofagus vertikal dari bagian tengah leher
bawah faring sampai pada ujung bawah rongga dada belakang trakea. Faring adalah
penghubung antara esofagus dan rongga mulut. melakukan suatu gerakan untuk
mencegah makanan masuk ke dalam saluran pernapasan dengan menutupnya beberapa
detik dan mendorong makanan masuk ke esofagus. Esofagus tersusun atas otot
melingkar dan otot memanjang. Dengan adanya otot ini terjadi gerakan
peristaltik sehingga bolus (makanan yang telah dicerna di dalam mulut) masuk ke
lambung. Gerakan peristaltik terjadi, karena otot-otot esofagus berkontraksi
dan berelaksasi secara bergantian. Jadi, fungsi esofagus hanya menyalurkan makanan
dari rongga mulut ke lambung. Lapisan dalam esofagus merupakan selaput lender (mukosa)
yang mensekresikan mukoid. Mukoid berfungsi melumasi bolus sehingga dapat
melewati esofagus. Selain itu, berfungsi melumasi dinding esofagus sehingga
terlindungi dari getah lambung. Pada bagian paling bawah esofagus yang berbatasan
dengan lambung terdapat sfinkter esofagus. Sfinkter berfungsi mencegah isi
lambung masuk ke esofagus.
c.
Lambung
Lambung merupakan suatu organ yang berupa kantong berotot
yang terletak di sebelah kiri atas rongga perut di bawah diafragma.
Bagian-bagian dari lambung adalah kardiak, fundus, dan pilorus. Kardiak adalah
bagian yang berbatasan dengan sfinkter esofagus. Fundus adalah bagian atas
lambung. Pilorus adalah bagian paling bawah lambung yang berbatasan dengan usus
halus (duodenum). Pada perbatasan ini terdapat klep yang disebut dengan sfinkter
pilorus. Di dalam lambung makanan dapat tersimpan selama 2 – 5 jam. Kecepatan
pengosongan lambung tergantung pada jenis makanan.
Pencernaan makanan di dalam lambung terjadi secara mekanis
dan kimiawi.
1)
Secara mekanis
Bolus yang masuk lambung akan dihancurkan dan dihaluskan
oleh gerakan peristaltik. Makanan yang telah menjadi bentuk lebih halus disebut
chime (kim).
2)
Secara kimiawi
Selain dengan gerakan peristaltik, makanan dicerna dengan
getah lambung yang terdiri atas:
a) Pepsin, enzim yang memecah protein menjadi asam amino
(albumin dan peptin).
b) Renin, enzim yang mengubah kaseinogen menjadi kasein.
c) Lipase, enzim yang menghidrolisa lemak menjadi
asam lemak dan gliserol.
d) HCL (asam lambung) mempunyai fungsi mengaktifkan pepsin,
mengubah pepsinogen menjadi pepsin, dan bakteri yang masuk lambung bersama
makanan.
d. Usus halus (intestinum)
Makanan yang telah menjadi bubur (kim) karena mengalami
pencernaan di lambung masuk ke usus halus. Usus halus memiliki panjang kurang
lebih 6 meter. Di dalam usus halus makanan mengalami proses pencernaan dan
absorpsi. Permukaan dalam usus halus susunannya berupa lipatan-lipatan yang
memiliki vili (jonjot) sehingga memperluas penyerapan. Vili banyak mengandung
pembuluh darah dan limfa. Usus halus terdiri atas tiga bagian, yaitu duodenum
(usus dua belas jari), jejunum (usus kosong), dan ileum (usus penyerapan).
1)
Usus dua belas jari
(duodenum)
Di dalam duodenum bermuara dua saluran, yaitu
saluran empedu (duktus koledukus) dan saluran pankreas (duktus pankreatikus).
Empedu (biliribum) dihasilkan oleh hati. Empedu mempunyai peranan dalam
membantu pencernaan lemak dan mengemulsi lemak serta memberi warna kuning pada
feses. Pankreas menghasilkan enzim yang membantu pencernaan, yaitu lipase dan
enterokinase yang berperan dalam menghidrolisis protein, lemak, dan
karbohidrat. Duodenum memiliki panjang kurang lebih 1/3 meter. Dinding duodenum
lebih tebal dibanding yang lain. Dinding bagian dalam memiliki lapisan mukosa
yang banyak mengandung kelenjar-kelenjar bunner yang mensekresikan getah
intestinum.
2)
Jejunum
Jejunum memiliki panjang sekitar 2 - 3 meter.
Permukaannya lebih lebar, dindingnya lebih tebal, serta lebih banyak mengandung
pembuluh darah. Di dalam jejunum makanan mengalami proses pencernaan secara
kimiawi yang dibantu oleh enzim-enzim pencernaan yang dihasilkan usus ini.
Enzimenzim tersebut adalah:
a) laktase, enzim yang mengubah laktosa menjadi
glukosa
b) dipeptidase, mengubah pepton menjadi asam amino
c) enterokinase, mengaktifkan tripsinogen
d) maltase, mengubah maltosa menjadi glukosa
e) disakanase, mengubah disakarida menjadi
monosakarida
f) sukrase, mencerna sukrosa menjadi glukosa dan
fruktosa
g) lipase, mengubah trigliserida menjadi gliserol
dan asam lemak
h) peptidase, mengubah polipeptida menjadi asam
amino
3) Ileum
Ileum memiliki panjang kurang lebih 4 - 5 meter. Di
dalam usus ini terjadi proses penyerapan (absorpsi) zat-zat makanan. Permukaan
dinding dalam ileum terdapat vili sehingga proses penyerapan zat makanan lebih
luas dan sempurna. Absorpsi zat-zat makanan di dalam usus halus dilakukan oleh
pembuluh darah kapiler dan saluran limfa yang terdapat dalam permukaan vili.
Glukosa, asam amino, vitanium, air, dan mineral, diabsorpsi pembuluh darah
kapier, dibawa menuju hati melalui vena porta. Di dalam hati, sebagian
mengalami perubahan bentuk lain dan sebagian diedarkan ke seluruh tubuh melalui
vena hepatika. Sedangkan, asam lemak dan gliserol diserap oleh pembuluh limfe
(pembuluh kil). Asam amino diabsorpsi secara cepat di duodenum dan jejunum. Di
dalam usus halus selain pencernaan secara kimia juga pencernaan secara mekanik,
yaitu gerakan peristaltik. Dengan gerakan peristaltik inilah kim dapat bergerak
dan meningkatkan absorpsi zat-zat makanan.
e. Usus besar
(Kolon)
Setelah usus halus, dilanjutkan usus besar atau
kolon. Kolon mempunyai panjang kurang lebih 1,5 - 1,7 meter. Kolon terdiri atas
sekum, yaitu suatu bentukan seperti kantong lebar batas antara kolon dan usus
halus. Pada bagian bawah sekum terdapat bentukan tambahan usus yang disebut
dengan umbai cacing atau apendiks. Apendiks memiliki panjang ± 6 cm, dan belum
diketahui dengan pasti fungsinya. Apendiks ini dapat mengalami peradangan yang
sering disebut dengan apendiksitis atau dikenal dengan radang usus buntu. Bagian
kolon yang lain, yaitu kolon asenden (kolon naik), kolon transversal (kolon
melintang), dan kolon desenden (kolon menurun). Lapisan dalam kolon tidak
terdapat vili, tetapi memiliki kripta-kripta yang mrnghasilkan mukus pelumas. Di
dalam kolon hanya terjadi penyerapan air dan elektrolit dan terjadi pembusukan
sisa-sisa makanan yang dibantu bakteri E. coli. Di dalam kolon terjadi pergerakan
yang lemah. Feses ditampung sementara. Apabila feses terkumpul cukup banyak,
maka akan terjadi gerakan mendorong feses ke arah rektum sehingga timbul
keinginan defekasi (buang air besar).
f.
Anus
Anus merupakan muara akhir dari sistem pencernaan. Anus
mempunyai dua otot, yaitu otot sadar dan otot tak sadar. Otot sadar terdapat di
bagian eksternal, sedangkan otot tak sadar terdapat di bagian internal. Jika
feses menyentuh dinding rektum akan merangsang otot tak sadar relaksasi
sehingga ada keinginan untuk buang air besar. Pada saat bersamaan otot sadar
berkontraksi sehingga kamu bisa menahan keinginan untuk buang air besar. Hal
ini, menyebabkan kamu bisa menahan keinginan buang air besar jika keadaan tidak
memungkinkan.
Kelenjar
Pencernaan
Kelenjar pencernaan
berfungsi menghasilkan enzim-enzim pencernaan.
Sari-sari makanan yang diserap usus halus akan melewati
hati terlebih dahulu. Hati berfungsi sebagai pengatur keseimbangan zat makanan dalam darah dan sebagai pensekresi empedu. Empedu mengandung garam-garam empedu, pigmen empedu, air, dan kolesterol. Garam-garam
empedu berfungsi menurunkan tegangan butir lemak
agar dapat diemulsikan sehingga mudah
diserap. Selain itu, empedu juga
menghasilkan pigmen bilirubin dan biliverdin. Pigmen ini memberi warna cokelat pada feses.
Ada empat cara
insulin untuk menurunkan kadar glukosa darah,
yaitu pertama, insulin merangsang sel-sel tubuh untuk menyerap lebih banyak glukosa dari darah. Kedua,
insulin meningkatkan kecepatan reaksi
respirasi seluler yang menggunakan glukosa. Ketiga,
insulin merangsang hati untuk mengabsorpsi
glukosa darah. Keempat, insulin merangsang selsel lemak untuk mengambil glukosa dan mengubahnya menjadi
lemak. Selain
menghasilkan insulin, pankreas juga menghasilkan glukagon, yaitu hormon yang dapat merangsang hati untuk mengubah glikogen hati menjadi glukosa dan mengeluarkan
glukosa jika kadar glukosa dalam darah rendah.
Referensi:
Ferdinand,
Fictor. (2009). Praktis Belajar Biologi
untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas/ Mardrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan
Alam. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
keren. makasih ya
BalasHapus